Menggurat Visi Kerakyatan

Dialog Kisah Pejuang Kiri Komunis Internasional di Universitas Jember

94

Senin pagi (10/02), Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Jember, mengadakan Public Speech‘Jejak Tan Malaka di Republik Indonesia’ dan bedah buku terbaru Harry A. Poeze, Ph. D. Buku yang diluncurkan sekaligus dibedah tersebut ialah jilid IV dari ‘Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia’. Dialog mengenai tokoh yang berperan besar terhadap kemerdekaan Indonesia itu berlangsung di Aula Fakultas Sastra. Acara ni dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen.

Datuk Ibrahim Tan Malaka pejuang militan, radikal, dan revolusioner. Ia banyak melahirkan pemikiran-pemikiran. Terlebih bagi Soekarno, Tan Malaka telah berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka selalu mengedepankan perlawanan gerilya daripada harus memilih untuk menyerah. Bagi Tan Malaka, perundingan dengan pihak asing hanya bisa dilakukan setelah adanya pengakuan bahwa Indonesia Merdeka Seratus Persen. Namun pada 21 Februari 1949 dieksekusi mati dan kabar kematiannya dirahasiakan. Harry A. Poeze kemudian memepertaruhkan separuh hidupnya untuk membongkar misteri kematian Tan Malaka.

Acara diskusi dan bedah buku di Jember berlangsung lancar, kendati tiga hari sebelumnya diskusi di perpustakaan dan ruang kolaboratif, C2O Surabaya dibatakan. Jum’at pekan lalu, pihak kepolisian tidak memberikan izin kepada C2O. Sebab, Front Pembela Islam (FPI) memprotes keras acara itu. Bahkan beberapa simpatisan FPI sempat menduduki depan C20 Library hingga malam hari. Mereka memastikan agar diskusi itu batal digelar.

Rencananya diskusi dan bedah buku “Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia” Jilid IV dijadwalkan akan berlangsung di Perpustakaan dan ruang kolaboratif C2O, Surabaya pada Jumat (7/2) malam.Kegiatan itu akan digelar jam 18.30 sampai 21.00 dengan mendatangkan penulis buku yang berasal dari Belanda, Harry A. Poeze.

Polisi khawatir ada pembubaran paksa oleh kelompok tertentu. Keputusan pembatalan ditetapkan beberapa jam sebelum acara dimulai atas rekomendasi Polrestabes Surabaya dengan alasan keamanan. Harry A. Poeze juga menanggapi bahwasanya ia sempat mendapatkan informasi tersebut. “Saya ke sana dalam rencana diskusi, dan sebelumnya ada sms yang dikirim oleh seorang simpatisan pembela islam bahwa akan ada salah satu kursus komunisme,” ujar Harry A. Poeze.

Di Jember justru gelora semangat para peserta untuk menghadiri peluncuran dan bedah buku ini terkesan meriah. Bahkan Ruang Aula FS-UJ sampai tidak muat lagi menampung banyaknya jumlah peserta. Terpaksa harus ada yang rela mendengarkan diskusi dari luar. “Sangat memuaskan atas antusias mahasiswa. Undangan sebetulnya terbatas untuk 100 mahasiswa 50 dosen dan tamu undangan tapi tadi melebihi kuota sampai ada yang di luar,” kata Dr. Eko Cryss, M.Hum selaku ketua panitia pelaksana dan dosen di Jurusan Sejarah. 

Eko pun menuturkan jika di zona akademis, bedah buku kisah pejuang kiri semacam Tan Malaka ini tidak akan menjadi masalah. Ruang akademis terbuka bagi perkembangan ilmu pengetahuan. “Kalo kegiatan ini diadakan didalam kampus sepertinya tidak ada masalah, karena termasuk keterbukaan akademis,” ungkap Eko.[]

 
 
Penulis: Fahmy Hilmy Abdillah
Editor: Dieqy Hasbi Widhana