Menggurat Visi Kerakyatan

Modernisasi Impian Kartini dan Permainan Sistem Produksi

105

Dua minggu telah berlalu dari peringatan Hari Kartini. Apakah gaung hari itu telah pudar dari kepala? Sepertinya begitu. Sengaja saya menulis topik ini lebih lambat untuk mempertahankan gema Hari Kartini. Karena sering kali semangat berwacana dari sebuah momen berlalu begitu cepat. Muncul saat sebuah momen hadir dan tenggelam saat momen itu telah terlewat.

Kartini, memang sebuah sosok dan Hari Kartini adalah momentum yang mengingatkan bangsa ini tentang bagaimana seorang perempuan berani memperjuangkan haknya. Bukan bagaimana seorang perempuan harus diperlakukan. Ini konteks yang seharusnya dibangun saat ini. Di mana perlakuan terhadap manusia bukan didasarkan pada jenis jender, tapi tingkat intelektualitasnya yang disumbangkan bagi kemanusiaan. Seperti itulah yang digaungkan oleh dunia modern.

Saat ini tingkat pendidikan di Indonesia perlahan meningkat. Tingkat kedewasaan masyarakat dalam merespon permasalahan sosial pun semakin cekatan. Begitupun dalam konteks feminisme. Berapa banyak aktivis feminis yang selalu siap mendampingi para perempuan dan berapa banyak orang yang semakin sadar, bagaimana cara memperlakukan perempuan. Martabat kaum perempuan secara tidak langsung terangkat dari berkembangnya tingkat intelektual masyarakat.

Kini optimisme kian terpacu. Terus meningkat. Bahkan setiap individu berpotensi dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan apa yang dia cita-citakan. Hal ini tidak lepas dari peran teknologi yang semakin mempermudah kehidupan manusia. Perkembangan teknologi informasi mempersembahkan ruang yang luas untuk setiap orang dapat belajar tentang apa saja. Tanpa membedakan jenis gender atau bahkan ras. Perkembangan teknologi memberikan dampak yang luar biasa pada kebebasan individu.

Namun alih-alih memberikan ruang yang begitu besar pada perempuan, media malah mengeksploitasi tubuh perempuan secara besar-besaran. Tubuh perempuan selalu dibuat melenggang bebas di dalam layar. Lengkap dengan skenario tengah bersenyum dan berbagai macam pose. Perempuan menjadi daya tarik setiap barang dagangan atau malah sebenarnya perempuan itu sendiri yang menjadi barang dagangan.

Sepertinya kondisi ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada kurun Kartini masih hidup. Dia melawan ketidakadilan pada perlakuan kaum perempuan yang cenderung dimarginalkan. Perempuan pada waktu itu tidak mendapatkan hak untuk berperan yang setara dengan laki-laki. Perempuan diperlakukan layaknya barang yang siap dijual tanpa mampu melawan.

Sekarang perdagangan itu telah berevolusi menjadi lebih halus. Seakan-akan memberikan ruang yang begitu besar terhadap kaum perempuan. Kaum  perempuan dengan suka hati tanpa merasa dirinya dijual, ternyata menjadi sebuah komoditas. Hal ini diperparah dengan masyarakat sekarang yang telah berevolusi menjadi masyarakat konsumtif. Komoditas itu pun laris manis dan membuat para pemodal semakin kaya raya. Masyarakat telah mengamini segala macam yang bisa memuaskan hasrat adalah bentuk konsumsi. Termasuk sensualitas dan kepercayaan diri yang ditampilkan oleh tubuh molek perempuan dalam berbagai macam iklan.

Jean Baudrillard dalam teori consumer society mengatakan, kehidupan masyarakat pada era ini tidak lagi didasarkan pada pertukaran barang materi yang berdaya guna (seperti model marxisme). Melainkan pada komoditas sebagai tanda dan simbol yang signifikasinya sewenang-wenang (arbitrer,) dan tergantung kesepakatan (conventional) dalam apa yang disebutnya kode (the code). Perempuan telah menjadi simbol dari sensualitas dan kepercayaan diri yang dalam masyarakat. Menjadi kesepakatan bagaimana seseorang mempunyai status dan identitas.

Padahal konsumsi adalah turunan dari produksi, bukan penikmatan. Dengan demikian produsen bukan lagi menjadi orang yang memproduksi barang atau jasa. Melainkan mereka yang memproduksi kenikmatan-kenikmatan untuk memenuhi hasrat masyarakat dari status dan identitas sosial.

Kondisi semacam ini secara tidak langsung memberikan tantangan bagi intelektualitas masyarakat. Permasalahan yang dihadapi kaum perempuan telah menjadi bagian dari kompleksitas permasalahan sosial masyarakat. Rasa haus yang terus menerus dipompakan menjadikan tingkat konsumtif masyarakat semakin akut. Ketergantungan ini menunjukkan masyarakat tidak lagi menjadi subyek, melainkan obyek yang dipaksa untuk terus-menerus memenuhi kebutuhan mereka yang mengada-ada.

Terjadi evolusi bertingkat dalam kasus ini. Pertama kaum perempuan telah menjadi komoditas dagangan. Sedangkan kedua, masyarakat telah menjadi obyek dari proses produksi. Evolusi ini juga turunan dari konsumsi yang bersifat nature menjadi konsumsi yang bersifat culture. Di sisi lain semuanya terjebak dalam hulu dari proses produksi. Dari sanalah era modern muncul.

Daya intelektualitas ternyata masih belum mampu menyelesaikan permasalahan tradisional yang dulu pernah mengancam kaum perempuan. Kecerdasan berpikir juga tidak memberikan solusi dari permasalahan konsumsi masyarakat. Malah masyarakat seakan menjadi makhluk yang tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. Terus-menerus memakan dan selalu ingin memenuhi kepuasan yang tidak akan pernah habis.

Di sisi lain, di dunia ketiga atau yang tergolong negara berkembang, masih banyak orang sulit memenuhi kebutuhan pokoknya. Ironi di balik sebuah era dengan tingkat intelektualitas semakin tinggi tengah terjadi. Memang sudah tidak ada lagi perang ataupun penjajahan di negeri ini. Namun perjuangan para kaum intelektual tengah diuji dalam menghadapi sistem yang kasat mata maupun tak kasat mata.

Hari Kartini menjadi sebuah tonggak di mana kaum perempuan memposisikan diri dalam sebuah perjuangan membangun ideologi masyarakat. Perlawanan yang digemakan Kartini menjadi titik tolak perubahan kultur dalam masyarakat. Tidak menutup kemungkinan untuk masa kini, perlawanan perempuan atas komodifikasi terhadap dirinya, akan mampu meruntuhkan sistem produksi yang telah berevolusi.[]

 

Oleh: Dian Teguh Wahyu Hidayat, Demisioner Litbang LPM Manifest dan Mantan Sekertaris Jendral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Kota Jember.