Menggurat Visi Kerakyatan

Memperdalam Makna Musikalisasi Puisi Melalui Diskusi

743

Pada kamis (31/01) pukul 18.30 WIB baru ada beberapa orang di Cafe Samastha, padahal hari itu akan ada acara diskusi. Diskusi yang akan digelar hari itu bertajuk Puisi Sebagai Gagasan Bermusik dari Istilah ke Aksi. Pukul 20.00 WIB pemantik dan peserta diskusi naik ke lantai dua Cafe Samastha. Acara dimulai dengan penampilan dari Cholis yang membawakan musikalisasi puisi.

Diskusi ini diisi oleh beberapa pemantik, yakni Mei Artanto, Lingkar Merimbun, Isnadi, dan Hat Pujiati. Bintang Aji Brata memoderatori diskusi malam itu. Isnadi membuka diskusi dengan membahas proses kreatif pembuatan puisi. Hat Pujiati melanjutkan dengan pembahasan mengenai estetika puisi. Pemantik diskusi ketiga  yaitu Mei Artanto membahas soal prespektif puisi dari musikologi dan proses puisi menjadi sebuah karya musikal. Lingkar Merimbun membawakan sebuah musikalisasi puisi sebagai contoh konkretnya.

Seorang lelaki berjaket parka warna hijau mengangkat tangannya saat moderator memberi kesempatan bertanya kepada peserta diskusi. Ia adalah Fauzan Isfandha, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember. Malam itu ia tidak datang sendiri melainkan bersama beberapa orang temannya. Ia duduk di barisan depan. Sejak acara dimulai pandangannya selalu lurus ke depan. Fauzan sudah tertarik dengan musikalisasi puisi sejak Sekolah Menengah Atas. Ia pernah bikin puisi, tapi belum pernah membuat musikalisasi puisi karyanya sendiri. Fauzan pernah menampilkan musikalisasi puisi karya orang lain.

“Kalau pemaknaan aku masih berusaha memahami, tapi dalam proses keseharian aku ya menikmati musikalisasi puisi itu sendiri,” ungkap Fauzan. Ia mengaku mengetahui perbedaan musik puisi dan musikalisasi puisi. Sepengetahuannya musik puisi adalah pembacaan puisi yang diiringi dengan musik, sedangkan musikalisasi puisi merupakan proses pemusikan itu setelah puisi lahir. Kemudian dalam kesempatan itu, Fauzan mempertanyakan mengenai perbedaan musik puisi dan musikalisasi puisi kepada pemantik diskusi.

“Kalau membicarakan manfaat ya kalau dari aku sendiri ya pasti bermanfaat karena ini akan memberikan suatu referensi sebagai literasi kewacanaan di diri saya sendiri.” Jelas Fauzan. Ia menilai bahwa menonton musikalisasi puisi membuat pengetahuannya bertambah.

“Kalau menurut saya ya sangat penting.” Fauzan memiliki kesadaran bahwa acara diskusi ini dapat menjadi ruang penyedia dan pembangun wacana baru. Ia menilai pembahasan mengenai musikalisasi puisi secara mendalam di Jember masih jarang. Fauzan menganggap ruang-ruang diskusi semacam ini perlu diadakan demi terciptanya perkembangan dalam dunia kesenian, literasi, dan kebudayaan di Jember.

Diskusi tersebut berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama selesai pukul 22.00 WIB, sementara diskusi bagian ke dua dengan topik pembahasan yang masih sama yaitu musik dan puisi selesai pukul 00.00 WIB. Fauzan mengikuti dua sesi diskusi tersebut, namun ia merasa belum ada pengertian yang pasti mengenai musikalisasi puisi. Dari diskusi tersebut muncul gagasan dalam benaknya mengenai kemungkinan-kemungkinan baru apabila musik dan puisi dapat dikolaborasikan. “Yang aku tangkap itu persoalan tidak ada kesepakatan yang valid mengenai musikalisasi puisi itu,” ungkap Fauzan.

“Saya merasa tidak ada satu motivasi yang bisa mendorong diri saya dari diskusi kemarin,” ungkap Fauzan. Semenjak dulu Fauzan sudah memiliki keinginan untuk membuat musikalisasi puisi karyanya sendiri, namun diskusi malam itu masih belum cukup untuk menambah motivasinya.

Fauzan tidak memungkiri setelah mengikuti diskusi tersebut ia makin penasaran tentang musikalisasi puisi. Ia juga mendapat gambaran baru mengenai bagaimana musik dan puisi bisa lebih diolah lagi. “Muncul banyak pertanyaan pada akhirnya soal musikalisasi puisi itu,” ujar Fauzan.

“Pembangunan sesuatu itu gak bisa instan perlu keberlanjutan dan proses yang panjang,” ungkap Fauzan. Fauzan menyadari bahwa untuk merasakan manfaat dari musikalisasi puisi diperlukan beberapa kali diskusi. Ia berharap bahwa akan ada kelanjutan dari diskusi mengenai musikalisasi puisi ini.

Untuk menyelenggarakan diskusi tersebut, Rio Priatma salah satu orang yang terlibat dalam penyelenggaraan diskusi mengaku butuh obrolan sekitar satu hingga dua bulan. “Obrolannya sebenarnya sudah agak lama, tapi persiapan untuk acara diskusi kemarin ya kurang lebih seminggu,” terang Rio. Acara diskusi tersebut diselenggarakan secara kolektif, maksudnya tidak ada kepanitiaan dan ada banyak orang yang terlibat.

Sejalan dengan harapan Fauzan, Rio berharap diskusi semacam ini akan terus berlanjut. “Tujuannya sih membuka ruang-ruang diskusi yang lebih beragam di Jember dan semoga terus berlanjut,” ungkap Rio. []