Menggurat Visi Kerakyatan

Mahasiswa Kupas Kerusuhan Mei 1998 di Era Soeharto

150

Belum tuntasnya kasus penculikan aktivis dan kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di Indonesia, pada era pemerintahan presiden Soeharto menjadi topik pembahasan dalam Seminar Nasional Menolak Lupa, di Aula Radio Republik Indonesia (RRI) Jember, Jumat (30/05). Acara yang diinisiasi oleh forum diskusi Gedrik ini, mendatangkan Chrisbiantoro, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Sunarlan, S.S.,M.Si, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember.

Menurut Ridho Ilwafa, ketua panitia kegiatan, awal mula kegiatan ini digagas sebagai bentuk simpati atas perjuangan aktivis pro demokrasi yang menjadi korban penculikan di sekitar kerusuhan Mei 1998. “Acara ini merupakan bentuk akumulasi rasa cinta kita kepada kawan-kawan yang pada tahun 1998 telah berjuang, dan sampai hari ini banyak dari mereka yang kita tidak tahu keberadaannya,” kata Ridho.

Sebelum menghelat Seminar Nasional Menolak Lupa pihak Gedrik telah melakukan konsolidasi dengan beberapa aktivis pro demokrasi di Jakarta, Jogjakarta, Malang, dan sebagainya. Di berbagai kota itu, kata Ridho, pihaknya menemukan kesamaan bentuk simpatik terhadap nasib koban kerusuhan Mei 1998.

Selain itu, Gedrik pun mengundang berbagai elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat yang ada di Jember. Hal ini, oleh Ridho, disebutkan sebagai keterbukaan ruang diskusi di era demokrasi. “Bila kita semua tahu bahwa situasi politik pada saat itu (pemerintahan Soeharto) sangat mendebarkan. Pada zaman sekarang mungkin sangat bisa untuk membicarakan hal itu (kasus kerusuhan Mei 1998),” tandasnya.[]

 

Penulis: Kholid Rafsanjani