Menggurat Visi Kerakyatan

Mahasiswa Ingin kualitas Sistem Ajar Sejalan Dengan Peningkatan Fasilitas Kelas

104

Pembangunan Fakultas Sastra Universitas Jember (F  S UJ) semakin banyak terlihat di awal tahun 2016. Pembangunan diawali dengan pembentukan taman, peluasan lahan parkir, bahkan penambahan fasilitas kelas seperti lampu, kipas angin dan wifi. Pembangunan ini menurut Pembantu Dekan II, Latifatul Izzah merupakan hal yang telah terkonsep sebelumnya, bukan berawal dari protes dan kritik mahasiswa yang berkaitan dengan minimnya fasilitas kelas. “Jangan dikira saya bergerak karena tulisan-tulisan itu tadi, jadi sudah terprogram sebelumnya,” ujarnya. (Baca juga : Kegagapan Pembangunan Fakultas Sastra Universitas Jember dan Mahasiswa Tanggapi Pemangunan Kampus Lewat Aksi Teatrikal)

Pramoedya Ardhi Khrisna, salah satu mahasiswa FS UJ merasa senang dengan pembangunan yang ada saat ini. Menurutnya fasilitas yang ada sudah memenuhi kriteria sehingga mahasiswa dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. “Beberapa pembangunan sudah bermanfaat lah bagi mahasiswa, bahkan taman pun sekarang sudah bisa buat tempat baca puisi juga”, ujar Khrisna.

Pembangunan yang ada di FS UJ ini terbagi menjadi dua. Pembangunan dari segi bangunan maupun fasilitas kampus dan dari sistem pengajaran ataupun tata tertib yang diterapkan. Mahasiswa menganggap pemenuhan fasilitas kelas sudah bisa dibilang sesuai karena mahasiswa sudah bisa memanfaatkan dengan baik. Namun untuk sistem pendidikan belum bisa dibilang memenuhi standar karena ada beberapa dosen yang sistem pengajarannya pasif bahkan kekurangan bahan ajar serta untuk beberapa dosen masih kurang dalam memberikan metode pembelajaran yang tepat. “Untuk sistem pengajaran, dari beberapa dosen ada yang terlalu fokus sama penjelasannya aja, tanpa ada timbal balik atau diskusi,” lanjutnya.

Kekurangan dalam hal pembangunan saat ini hanya terletak pada sistem pengajaran saja. Selain itu, tata tertib di FS UJ juga diterapkan dengan lebih tegas dari sebelumnya. Khrisna menjelaskan bahwa mahasiswa yang memakai kaos oblong dan sandal japit akan dihadang oleh satpam. “Sistem administrasi dan sistem yang lain sudah teratur, dari yang awalnya dulu boleh memakai kaos bolong-bolong dan sandal jepit, kalau sekarang udah dicegat satpam duluan sebelum masuk,” kata Khrisna.

Dalam melakukan sesuatu pasti harus ada yang menjadi prioritas, begitu juga dalam pembangunan.Pembangunan yang menjadi harapan mahasiswa yakni bukan hanya pembangunan dari hal bentuk luarnya namun harus diprioritaskan terlebih dahulu sistem pengajaran yang belum memadai seperti kualitas dosen yang kurang. “Harus ada yang lebih diprioritaskan dari pembangunan ini, ini kan pembangunan dalam hal bentuk bukan dalam isi yang dibangun atau diperbaiki,” lanjut Khrisna.[]