Menggurat Visi Kerakyatan

Debat Pilpres Jadi Ajang Saling Serang Pasangan Capres

42

Debat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pengganti kampanye pada Pemilu Presiden tahun 2014 turut menjadi topik diskusi dalam Sosialisasi dan Seminar dengan tema Politik Cerdas untuk Demokrasi yang Berbudi Pekerti pada Rabu (02/07), di kedai Kopi Miring Jember.

Anggara Eky S, anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat sastra berpendapat depat Capres, Cawapres mengurangi kemungkinan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) karena menghemat biaya kampanye. Masyarakat juga lebih mudah mengakses acara yang disiarkan televisi itu. “Ada nilai positif dan negatif dari debat Capres. Positifnya mengurangi adanya KKN serta memudahkan masyarakat mengenali calon pemimpinnya,” kata Anggara.

Namun anggara menyayangkan ketika debat Capres menjadi ajang saling menjatuhkan kedua kubu Capres, “Negatifnya dalam debat, penyampaian visi misi, tranparansi kekayaan, kemampuan beretorika, bertujuan untuk saling mengajukan pertanyaan dan jawaban ini menyebabkan makin banyaknya celah-celah dari masing-masing kubu melakukan serangan saling menjatuhkan,” jelasnya.

Menurut Habib M. Rohan acara debat Capres diadakan sebagai upaya KPU membentuk pemilu yang baik, “Debat itu merupakaan upaya KPU sebagai penyelenggara pemilu, untuk menjadikan pemilihan presiden kali ini lebih baik. Berdemokrasi yang baik, demokrasi yang berbudi pekerti.” Habib menambahkan tujuan debat tersebut dapat menjadi rujukkan bagi para pemilih, untuk dapat menentukan pilihannya sendiri tanpa pengaruh pihak luar. “Mengurangi kecurangan tim sukses yang langsung turun di tengah masyarakat,” tambahnya.[]

 

Penulis : Nurul Aini