Menggurat Visi Kerakyatan

Kronologi Ancaman dan Intimidasi PD III Fakultas Sastra Terhadap Reporter LPMS Ideas

68

PADA Rabu siang tertanggal 1 Oktober 2014, sekitar pukul 14:30 WIB, beberapa pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS Ideas) dikejutkan dengan sebuah kabar bahwa ada salah satu anggota dan reporter LPMS Ideas, Rosy Dewi Arianti Saptoyo, mendapat ancaman dan intimidasi dari Pembantu Dekan III (PD III) Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ), Wisasongko. (Baca: Reporter LPMS Ideas Dilecehkan Birokrasi Fakultas Sastra Universitas Jember)

Mulanya Rosy bersama Alifah Zaki Rodliyah, koordinator Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LPMS Ideas bermaksud untuk menemui PD III FS UJ dan mengajukan proposal dana kegiatan untuk penerbitan Buletin Partikelir. Namun berdasarkan kesaksian Alifah, saat itu Rosy ingin mengajukan proposal tersebut seorang diri, tanpa perlu ditemani Alifah. Karena dalam pikiran Rosy yang belum lama diangkat menjadi anggota tetap saat itu, kata Alifah, proses pengajuan proposal akan berjalan lancar tanpa ada hambatan. Akhirnya Rosy memantapkan diri untuk mengajukan proposal itu seorang diri.

Rosy pun membuka pintu ruang kerja PD III FS UJ, ia langsung dipersilahkan masuk untuk duduk dan menyampaikan keperluannya oleh Wisasongko. Sebelum Rosy menyampaikan maksud kedatangannya, Wisasongko masih terlihat sibuk membaca dan menandatangani tumpukan berkas di mejanya.

Rosy menunggu selama beberapa menit. Sampai akhirnya Wisasongko mengambil satu berkas proposal yang ada di tangan Rosy, ia mengamati sekilas dan membuka beberapa bagian proposal dalam waktu yang cukup singkat. Menurut keterangan Rosy, Wisasongko bahkan tak sempat membaca dengan teliti bagian latar belakang proposal.

Setelah itu, Wisasongko menanyakan tujuan Rosy datang ke ruangannya. Setelah Rosy menjelaskan, Wisasongko mengambil satu buletin Partikelir edisi Mafia Dana Praktikum Mahasiswa yang disimpan di lacinya. Kemudian ia menunjukkannya kepada Rosy, sembari mengatakan bahwa buletin Partikelir terbitan LPMS Ideas hanya berisi hujatan dan umpatan yang ditujukan kepada pihak kampus. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa berita yang ditampilkan dalam buletin Partikelir hanya memihak pada satu pihak saja. Ia kemudian membuka dan membaca secara sekilas beberapa halaman yang ada di buletin Partikelir.

Wisasongko kemudian mengatakan bahwa buletin Partikelir Ideas tidak berimbang dalam pemberitaan. Wisasongko pun menyebutkan bahwa pendapat itu ia kutip dari seorang dosen pengampu matakuliah jurnalistik di FS UJ, Bambang Aris Kartika.

Namun Rosy sempat memberikan penjelasan soal keberimbangan dalam berita kepada Wisasongko, ia menjelaskan bahwa dalam proses pengerjaan media itu, tim redaksi sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat berita yang berimbang. Tak hanya itu, Rosy juga mengatakan bahwa dalam proses pemetaan narasumber, tim redaksi juga selalu memegang poin cover both side dalam pemberitaan buletin Partikelir. Dengan maksud, menuliskan hasil wawancara dari dua atau tiga belah pihak narasumber terkait dengan isu yang diangkat.

Tak hanya mengacu pada buletin Partikelir, Wisasongko juga mengklaim bahwa sudah sejak lama LPMS-Ideas selalu membuat berita yang berisi kritik terhadap almamater Universitas Jember dan hal-hal negatif lainnya. Segala stigma negatif terkait kegiatan LPMS Ideas pun dilontarkan Wisasongko, kata Rosy.

Rosy pun berusaha menyanggah segala bentuk klaim dan pendapat bahwa media terbitan LPMS Ideas tidak berimbang, atau hanya berisi kritik dan hal negatif. Ia sempat menyampaikan pada Wisasongko bahwa LPMS Ideas juga memberitakan isu-isu kebudayaan lokal, pendidikan, dan beragam kegiatan mahasiswa di Jember. Tak hanya itu, Rosy juga menyebutkan bahwa dalam tiap kerja awak redaksi LPMS Ideas selalu berpegang teguh pada kode etik.

Namun tiap memberikan penjelasan, Rosy mengaku bahwa penjelasannya belum cukup dan Wisasongko mengalihkan topik pembicaraan. Wisasongko justru mempermasalahkan keikutsertaan Rosy menjadi anggota LPMS Ideas.

“Kamu di LPMS Ideas sebagai apa?” tanya Wisasongko.

“Anggota, Pak. Baru diangkat beberapa hari lalu,” jawab Rosy.

Setelah itu Wisasongko mengajukan beberapa pertanyaan pada Rosy terkait identitas Rosy.

“Nama kamu siapa?” tanya Wisasongko.

“Rosy,”

Kemudian ia mengajukan pertanyaan berikutnya, “Jurusan?”

“Sastra Indonesia,”

“Kamu dapat beasiswa?”

“Iya, Pak.”

“Apa?”

“Bidik Misi”

“Orang tuamu kerja apa?”

“Bapak saya Pendeta, ibu saya guru SLB,”

“Kamu itu lho mahasiswa Bidik Misi. Kamu kuliah dibiayai siapa? Pemerintah kan? Kok malah memberitakan yang seperti ini?”

Setelah tahu bahwa Rosy adalah mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, Wisasongko memberikan nasehat kepada Rosy. Berdasarkan keterangan Rosy, Wisasongko sempat menjelaskan bahwa mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi sudah dianggap sebagai anak oleh Wisasongko. Karena itu Wisasongko tidak mengharapkan bila mahasiswanya melakukan kegiatan-kegiatan yang negatif.

“Kalau kamu tidak dapat beasiswa dari pemerintah, kamu mau apa? Kamu masih bisa kuliah?”

“Enggak,” jawab Rosy sambil mulai menitikan air mata.

“Makanya, kamu itu miskin, gak usah macam-macam. Jangan dikira saya orang baru dalam bidang jurnalistik. Saya suka menulis, tulisan-tulisan saya banyak.”

Rosy mendengarkan.

“Kamu itu bisa menulis gak?”

Menurut kesaksian Rosy, Wisasongko mengancam akan memberhentikan pencairan dana Bidik Misi kepada Rosy.

“Kamu mau beasiswa saya bekukan? Nama kamu Rosy kan, jurusan Sastra Indonesia, saya bisa tulis dan saya laporkan. Jangan kira saya tidak bisa. Kamu itu Bidikmisi, gak usah macam-macam,” ungkap Wisasongko sambil memperagakan bagaimana ia akan menulis menggunakan penanya.

Karena mulai merasa takut, Rosy hanya bisa diam dan menganggukan kepala.

Rosy diperingatkan juga oleh Wisasongko agar lebih banyak melakukan kegiatan yang positif. Salah satunya dengan membuat tulisan yang memuat hal-hal yang baik terkait kehidupan di kampus. Wisasongko sempat mengatakan agar nantinya Rosy beserta semua awak redaksi di LPMS Ideas menuliskan prestasi dan karya yang dimiliki oleh akademisi dan dosen-dosen yang bergelar profesor. (Baca Juga: Wisasongko Menyebut Media Terbitan LPMS Ideas Tidak Berimbang)

Rosy pun tidak bisa banyak memberikan jawaban lagi, karena dianggapnya percuma dan tidak akan mengubah pandangan negatif tentang LPMS Ideas dari Wisasongko. Sampai pada akhirnya ia mendapat ancaman akan dicabut beasiswa Bidikmisinya. Rosy pun merasa tersudutkan dan ia pun mulai meneteskan airmata.

Wisasongko akhirnya mengembalikan kembali proposal pengajuan dana penerbitan media kepada Rosy. Sekaligus meminta agar proposal tersebut direvisi dan diajukan lain hari. Tanpa banyak bicara lagi, Rosy pun mengiyakan permintaan tersebut karena mengetahui Wisasongko memiliki agenda lain. Menurut keterangan Alifah yang saat itu menunggu Rosy di ruang tunggu dekanat, pembicaraan itu berlangsung selama kurang lebih setengah jam.

Setelah berpamitan dan meninggalkan ruang kerja PD III FS UJ, Rosy pun segera menuju sekretariat LPMS Ideas bersama Alifah. Kemudian menceritakan kronologi kejadian kepada beberapa pengurus di sekretariat LPMS Ideas, yaitu Nurul Aini (Pemimpin Umum), Kholid Rafsanjani (Koordinator Departemen Penerbitan), dan Alifah (Koordinator Departemen Litbang).

Setelah menceritakan kejadian itu pada pengurus LPMS Ideas, Rosy mengaku masih mengalami trauma psikis akibat dari kata-kata yang dilontarkan Wisasongko kepada dirinya. Ia pun segera melaporkan kejadian ini kepada orangtuanya.

Hingga Rabu malam, Rosy ditemui oleh Badan Pengurus Advokasi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember untuk dimintai keterangan terkait ancaman dan tindak intimidasi yang dilakukan oleh PD III FS-UJ.*