Menggurat Visi Kerakyatan

Gelar Malam Seni, Imasind Suguhkan Penampilan Bakat Mahasiswa dan Musik

Editor: Ayu Zhahrotul Madinah

890

Sabtu (03/09) Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (Imasind FIB) mengadakan acara malam seni berjudul “Distorsia Rasa”. Pelaksanaan malam seni termasuk ke dalam serangkaian “Semesta” (Semarak Pesta Sastra). Acara tersebut digelar secara luring, bertempat di depan Pendopo FIB serta dimeriahkan oleh penampilan dari mahasiswa, Band Sunshine dan Cholis.

Adinda Salsabila selaku ketua panitia “Semesta” menjelaskan alasan pemilihan judul “Distorsia Rasa” karena ingin menghadirkan kegembiraan dalam acara tersebut. “Alasannya simpel, karena kita mau rasa atau euforia itu terbangun dan penonton juga di sana gembira dengan penampilan-penampilannya, ”ujar Adinda pada Senin (05/09).

Adinda juga menambahkan, tujuan mengadakan acara ini adalah sebagai wadah bagi mahasiwa yang ingin menampilkan bakat yang mereka punya. “Kita membuatkan wadah untuk teman-teman yang pengen membaca puisi, menampilkan musik ataupun menampilkan apapun itu” tutur Adinda.

Adinda menjelaskan, sederet mahasiswa yang turut tampil pada acara malam seni adalah Asasind (mahasiswa Sasindo angkatan 21), La Satra (mahasiswa Sasindo angkatan 20), dan mahasiswa angkatan 18. “Kemarin ada penampilan dari Asasind, La Satra, kan angkatan 21 dan 20 terus juga ada penampilan dari teman-teman angkatan 18,” ujarnya.

Selama proses persiapan, Adinda menjelaskan terdapat beberapa kendala, utamanya pada saat sebelum acara berlangsung. Hal tersebut dikarenakan, proses birokrasi untuk perizinan tempat yang cukup sulit. “Proses birokrasi yang cukup ruwet, ada beberapa opsi yang di ajukan dan ternyata ketika kita ngurus perizinannya di tolak gitu,” ungkapnya.

Selain itu menurut Adinda, sulitnya mendapatkan pendanaan dari dekanat turut menjadi kendala pelaksanaan acara. Ia menjelaskan bahwa dekanat tidak menurunkan dana sepeserpun untuk acara ini, sehingga untuk pendanaan hanya bersumber dari sponsor. “Terus untuk kendala dana dari pameran sastra sampai malam seni, kita menerima nol rupiah dari dekanat dan tidak mendapatkan dana sepeserpun, jadi full dibiayai oleh sponsor,” ujar Dinda.

Adinda berharap, acara malam seni dapat terus terselenggara, sehingga Imasind memiliki ciri khas baru. “Aku berharap di tahun depan acara ini bisa diadakan lagi dengan lebih meriah, harapanku juga dari adanya itu bisa menjadi ikon barunya imasind,” ucapnya.

Salah satu penonton malam seni Endang Pertiwi, mahasiswi Sasindo (Sastra Indonesia) angkatan 2020 menyampaikan kesannya saat menonton malam seni. Ia menuturkan acara malam seni sangat berkesan baginya, sebab ia bisa menikmati alunan musik di malam minggunya yang senggang. “Ini sangat berkesan sih karena kita bisa mendengarkan alunan musik dan juga mengisi kekosongan waktu di malam minggu,” ucap Endang pada Sabtu (03/09).

Endang menyarankan untuk panitia penyelenggara di tahun-tahun selanjutnya agar lebih memperketat sistem penjagaan. “Saran saya semoga bisa diperketat lagi penjagaanya agar penonton bisa duduk dan tidak berada di pinggir-pinggir,” ujar Endang.

Ia berharap, ke depannya acara malam seni bisa diadakan setiap semester. “Untuk acara ini, semoga ke depannya bisa tiap semester di adakannya acara seperti ini lagi,” pungkas Endang.[]

Leave a comment