NOBAR FILM PESTA BABI, ILMU SEJARAH MENAMBAH PERSPEKTIF BERBEDA TENTANG PAPUA
Penulis: Naufal In’ami
Editor: Ichwan Widyanata Prayogi
Kamis (21/05), Program Studi (Prodi) Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Jember (UNEJ) meneyelenggarakan pemutaran film dan diskusi Pesta Babi bertajuk “Kolonialisme Di Zaman Kita” yang diselenggarakan di Aula Sutan Takdir Alisjahbana.
Diskusi tersebut menghadirkan Dr. Tri Chandra Aprianto, S.S., M.Hum. sebagai narasumber sekaligus dosen Ilmu Sejarah, serta dimoderatori oleh Alya Aurelia Ananta, mahasiswa aktif Ilmu Sejarah. Kegiatan ini berupaya membuka perspektif yang berbeda mengenai kondisi Papua melalui film Pesta Babi.
Film yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale mengangkat tema tentang kondisi Masyarakat dan eksploitasi alam yang terjadi di papua. Film yang membungkus pengerusakan alam, represi aparat keamanan, bisnis-bisnis besar, dan perlawanan rakyat papua menjadi sebuah gambaran nyata yang luput dari kamera media massa Jakarta.
Rifai Shadiq, penyelenggara kegiatan ini, menerangkan bahwa kondisi Papua yang kerap luput dari sorotan media arus utama menjadi salah satu alasan dipilihnya pemutaran film Pesta Babi dalam kegiatan tersebut. “saya ingin anak-anak sejarah dan civitas akademika di UNEJ Menambah perspektif lain, Ketika kita ngomongin soal Papua”, ujarnya.
Rifai soroti eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di Papua turut berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN). Sejumlah proyek tersebut kerap mendapat penolakan dari masyarakat lokal karena dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan dan kepentingan warga setempat. “soal proyek PSN Ini seringkali dilakukan tidak melalui dengan kajian yang panjang di sini Kita nggak belajar dari sejarah ketika pemerintah kolonial melakukan eksploitasi Sumber daya alam di Hindia Belanda dulu.” Ujarnya.
Pembubaran agenda nonton dan diskusi bareng pesta babi yang terjadi di beberapa kampus terkesan berlebihan dan menyalahi esensi Pendidikan tinggi. “Kalau kita ngomongin soal kritik terhadap misalnya krisis lingkungan, krisis energi atau mengerusakan alam yang terjadi di Papua. Nggak masalah ketika kita ngomongin itu sebagai bahan diskusi Kalau memang ada kebijakan yang perlu diperbaiki”, tegasnya.
Rifai menilai bahwa melalui ruang diskusi yang terbuka, masyarakat dapat memperoleh pandangan yang berbeda, terutama terkait arah kebijakan yang dinilai perlu diperbaiki. “Kalau memang ada kebijakan yang perlu diperbaiki, Justru itu bisa muncul ketika ruang-ruang diskusi ini dibuka dengan terbuka,” pungkasnya. []